Mengapa Allah Menciptakan Kita, Lalu Menguji Kita?
Diciptakan Itu Sendiri Adalah Ujian
Mengapa Allah Menciptakan Kita, Lalu Menguji Kita?
"Mengapa hidup ini penuh dengan ujian?"
Pertanyaan itu hampir pernah terlintas di benak setiap manusia. Ketika kehilangan orang yang dicintai, saat usaha tidak membuahkan hasil, ketika sakit berkepanjangan, atau ketika doa terasa belum juga dikabulkan, kita sering bertanya, "Mengapa aku harus mengalami semua ini?"
Pertanyaan itu bukanlah tanda lemahnya iman. Bahkan para nabi pun pernah merasakan beratnya ujian. Namun, Islam mengajarkan bahwa untuk memahami alasan di balik setiap ujian, kita harus terlebih dahulu memahami tujuan penciptaan manusia.
Kita Diciptakan Bukan Tanpa Tujuan
Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menciptakan manusia secara sia-sia. Kehidupan ini bukan sekadar perjalanan dari lahir hingga meninggal, bukan pula hanya tentang mengejar harta, jabatan, atau kesenangan dunia.
Allah berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah bukan hanya shalat, puasa, atau membaca Al-Qur'an. Ibadah adalah seluruh kehidupan yang dijalani dengan niat mencari ridha Allah. Cara kita bekerja, bersikap kepada keluarga, membantu sesama, hingga bagaimana kita menghadapi kesulitan, semuanya dapat bernilai ibadah.
Karena itulah, sejak kita dilahirkan, sesungguhnya kita telah memasuki sebuah perjalanan yang penuh dengan amanah dan ujian.
Kehidupan Adalah Ruang Ujian
Allah menjelaskan tujuan adanya kehidupan dengan sangat jelas.
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
Perhatikan ayat tersebut.
Allah tidak mengatakan siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling sukses.
Yang dinilai adalah siapa yang paling baik amalnya.
Artinya, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah seberapa mudah hidupnya, melainkan bagaimana ia menjalani hidup tersebut sesuai dengan petunjuk Allah.
Mengapa Ujian Setiap Orang Berbeda?
Banyak orang membandingkan hidupnya dengan orang lain.
"Kenapa dia hidupnya mudah?" "Kenapa aku terus diuji?"
Padahal Allah memberikan ujian yang berbeda sesuai dengan keadaan masing-masing.
Ada orang yang diuji dengan kekayaan.
Apakah hartanya membuatnya semakin bersyukur atau justru semakin sombong?
Ada yang diuji dengan kemiskinan.
Apakah ia tetap sabar dan menjaga kehormatannya?
Ada yang diuji dengan kesehatan.
Apakah ia menggunakan tubuhnya untuk taat kepada Allah?
Ada pula yang diuji dengan penyakit.
Apakah ia tetap bersabar dan berharap pahala dari Allah?
Ada yang diuji dengan keluarga yang harmonis.
Ada pula yang diuji dengan kehilangan orang yang dicintai.
Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian. Yang berbeda hanyalah bentuk ujiannya.
Nikmat Juga Merupakan Ujian
Banyak orang mengira ujian hanya berupa musibah.
Padahal nikmat pun merupakan ujian.
Harta, jabatan, kecerdasan, kecantikan, popularitas, bahkan waktu luang adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah berfirman:
"...Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan." (QS. At-Takatsur: 8)
Karena itu, jangan pernah merasa aman hanya karena hidup sedang menyenangkan.
Bisa jadi, justru saat itulah Allah sedang menguji rasa syukur kita.
Apa Hikmah di Balik Ujian?
Allah tidak menguji hamba-Nya tanpa hikmah.
Di antara hikmahnya adalah:
1. Agar Kita Semakin Dekat kepada Allah
Sering kali seseorang baru benar-benar bersungguh-sungguh berdoa ketika berada dalam kesulitan.
Ujian mengingatkan bahwa manusia lemah dan hanya Allah tempat bergantung.
2. Menghapus Dosa
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegelisahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Musibah yang dijalani dengan sabar bukan hanya menjadi ujian, tetapi juga menjadi sebab diampuninya dosa.
3. Mengangkat Derajat
Orang-orang yang paling berat ujiannya justru adalah para nabi.
Kemudian orang-orang saleh setelah mereka.
Semakin besar keimanan seseorang, terkadang semakin besar pula ujian yang Allah berikan, karena Allah ingin meninggikan kedudukannya.
4. Membentuk Kepribadian
Kesabaran tidak akan lahir tanpa kesulitan.
Keikhlasan tidak akan terlihat tanpa kehilangan.
Keberanian tidak akan tumbuh tanpa rasa takut.
Ujian membentuk pribadi yang lebih matang dan lebih dekat kepada Allah.
Allah Tidak Pernah Menzalimi Hamba-Nya
Kadang kita merasa ujian terlalu berat.
Namun Allah telah memberikan jaminan:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, jika Allah memberikan ujian itu kepada kita, berarti Allah mengetahui bahwa kita mampu menjalaninya dengan pertolongan-Nya.
Bukan dengan kekuatan diri sendiri, tetapi dengan iman, doa, dan tawakal kepada-Nya.
Bagaimana Menghadapi Ujian?
Ada beberapa bekal yang harus selalu kita bawa.
Perbanyak doa kepada Allah.
Perbaiki kualitas shalat.
Bersabar tanpa berputus asa.
Bersyukur dalam setiap keadaan.
Bertawakal setelah berikhtiar.
Perbanyak istighfar.
Dekat dengan Al-Qur'an.
Berkumpul dengan orang-orang saleh yang saling menguatkan.
Inilah "bekal" yang Allah berikan agar kita mampu menjalani perjalanan hidup dengan baik.
Penutup
Jika hari ini hidup terasa berat, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkanmu.
Bisa jadi justru Allah sedang membentukmu.
Bisa jadi Allah sedang mengangkat derajatmu.
Bisa jadi Allah sedang membersihkan dosamu.
Dan bisa jadi Allah sedang mempersiapkanmu untuk menerima sesuatu yang lebih besar daripada yang kamu bayangkan.
Selama napas masih berhembus, berarti kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka.
Maka jangan menyerah.
Teruslah melangkah, tetaplah bersabar, dan jangan pernah berhenti berharap kepada Allah.
Karena sesungguhnya, diciptakan itu sendiri adalah amanah, dan setiap amanah pasti akan diuji.
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, istiqamah dalam ketaatan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.